Tirani PSSI


Sepakbola kita menuju kehancuran, ketika politik dan uang yang bermain untuk melenggangkan kekuasaan dan mengendalikan kepentingan suatu golongan tertentu menjadikan nilai-nilai fair play yang menjadi tuhan dalam sepakbola disingkirkan dengan kejam oleh yang namanya tirani.

Kekuatan “Nurdin H” yang kompleks dalam menerjemahkan peraturan-peraturan yang tertuang dalam statua FIFA yang dimanifestasikan dalam AD/ART “nurdin” telah membentuk sebuah lingkaran kekuasaan setan didalam tubuh PSSI. Tidak lolosnya pencalonan George Toisutta dan Arifin Panigoro dalam bursa calon ketua umum PSSI semakin jelas menggambarkan bahwa PSSI itu haram hukumnya bagi yang bukan Nurdin CS atau “Partai Beringin”.


Salah satu contoh pemutarbalikan makna itu terutama pada Pasal 32 Ayat 4 tentang Syarat Anggota Komite Eksekutif yang berbunyi:

”They shall have already been active in football, must not have been previously found guilty of criminal offence”.

Dalam bahasa Indonesia, ayat ini berbunyi: ”Mereka telah aktif dalam sepak bola dan tidak pernah dinyatakan bersalah dalam tindak pidana”. Dalam pedoman yang diratifikasi PSSI (Pasal 35 Ayat 4), dua syarat dasar ini kemudian direkayasa menjadi: ”Telah aktif dalam kegiatan sepak bola sekurang-kurangnya lima tahun”. Pasal ini masih ditambah lagi dengan: ”di lingkungan PSSI”, yang kemudian menjadi senjata untuk menggugurkan Toisutta dan Arif.

Nilai sportifitas dan fair play seakan diabaikan. Pengurus PSSI seakan tuli dan buta melihat pergerakan suporter yang menghendaki perubahan di PSSI.. REVOLUSI itulah harga mati.. Potong semua generasi di pengurus PSSI

Tak ayal, muka tembok yang ada di PSSI membuat menpora Andi Malarangeng angkat bicara yang menghendaki PSSI merevisi peraturan-peraturan yang dibiaskan olah pengurus, bahkan dengan mengeluarkan Ancaman, berikut ancaman pak Andi:

“Ini merupakan peringatan kepada PSSI untuk ditindaklanjuti. Bagaimanapun PSSI tetaplah entitas olahraga Indonesia. Selama masih ada huruf i pada PSSI (Indonesia), maka PSSI juga tunduk pada peraturan perundang-undangan serta ketentuan organisasi olahraga yang berlaku di negeri ini,”Andi Mallarangeng yang juga Menegpora ini mengatakan, selagi masih pakai huruf `i` (Indonesia-Red) di belakang, PSSI harus “tunduk” terhadap peraturan pemerintah. Koreksi perlu dilakukan PSSI, terkait Kongres 4 tahunan. (sumber : Detik.com)

Konsekuensi keikutcampuran pemerintah dalam PSSI memang akan menimbulkan tentangan dari FIFA dan akan mendapat hukuman larangan bertanding di level internasional selama 2 tahun. Tapi mungkin lebih baik dibandingkan sepakbola Indonesia kembali di bawah kekuasaan korup Nurdin Halid..

Saatnya pemerintah bertindak menentang kekuasaan mutlak Nurdin Halid. Sebagai pemegang otoritas tertinggi dan penyuplai dana untuk kegiatan persepakbolaan yang menyedot anggaran besar, seharusnya pemerintah bisa “mengontrol” keindependenan dan “ke-fair play-an” PSSI. Bagaimanapun PSSI adalah menggunakan nama indonesia dan harus tunduk pada hukum Indonesia..

Menuju Sepakbola Yang Lebih Baik..
GARUDA DI DADAKU!!!!

oleh : Andri Setiyo Wibowo
http://andrisetiyowibowo.wordpress.com/

One Response

  1. Like this so muaaachhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: